Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Taman Kalbu

0 komentar

Beribu malu menerpa taman kalbu
Menjadikannya kelam menebar
Mawar yang tiada pernah merekah

Resah kian menjalar, rindu kian mengakar

Indahkah?

Petuah Terakhir Sang Kakek

0 komentar

Mencintalah sebelum hujan hujam tanah basah
Mengubur dirinya atau lenyap dalam sungai yang tak kenal muara

Membencilah seperti abu lupa pada nyala api dulu
Yang kukuh tak tersulut walau panas lagi merenggut

Bersabarlah bak senja yang tak berkeluh pada singkat nya masa
Yang percaya pada hari tuk melukis nya kembali

Bekerjalah seperti jantung hidupi mu dalam alunan tiada jemu
Yang detak nya tegar mengabdi walau seringkali kau khianati

Rehatlah dalam cahaya kejayaan bukan dalam ketidakpastian
Yang taringnya siap terkam tubuh lengahmu dari gelapnya waktu

Menangis dalam Egois

0 komentar

Kau menangis dalam gelap
Biar tiada yang tau, kau harap

Namun

Bagaimana bisa mataku cairkan pendar di indah matamu?

Bagaimana bisa jemariku seka kesedihan di lembut pipimu?

Bagaimana bisa pundak ku tersapa kilau hitam rambutmu?

Bagaimana bisa lidahku padamkan api di hati kecil mu?

Bagaimana bisa telingaku dimanja oleh suara merdu mu, bahkan ketika kau menangis?

Dalam gelap kau menangis
Sungguh, kau egois!

Diantara Jarak

0 komentar

Diantara jarak ku kagumi pagi
yang sabar menanti embun terjun
di tepi pucuk dedaun

Diantara jarak ku kagumi malam
yang diam-diam lukis impian
di sela sunyi temaram

Diantara jarak ku kagumi kau
yang elok nya tak sanggup ku talar
dalam diam dan gusar

Cukup gagah kah diri
Tuk mengagumi
Diantara jarak
Tanpa durasi?

Tiada Kuasa

0 komentar

Padamu tak ku taruh harapan berlebih
Namun, apa kau tau?:

Jemariku renta; tiada kuasa sentuh bayangmu
Suaraku hampa; tiada kuasa sapa dengarmu
Pandangku semu; tiada kuasa toleh parasmu

Aku bagai dikutuk menjadi batu,
Kian kelabu, kian membiru
sering aku dirajam sang waktu
yang enggan membeku
demi perjamuan antara kau dan aku

Tatkala sang Waktu berbudi kepadaku
Sudikah kau buka pintu tuk ketiadakuasaanku?
Atau...
Kuasa kah aku tuk mengetuknya?

There's a Party!

0 komentar

I'm crawling out from my peaceful darkness
Feeling so lazy and moving so slowly
There are voices calling me vigorously
Dragging my bones, my muscles, my veins
There's a party!

"Come on join man!"
I know that voice
The one of those voices, so annoying
Should I join the party?
So annoying, so annoying!

Lights beaming, music beating
As I anxiously entering
A house which is sparkling
Those people, dancing, jumping
So annoying, so annoying!

"Hey man try this wine!"
A stranger offering me a cup of wine
It's red wine... o wait, or is it blood?
I'm feeling insane as I'm holding the cup
So annoying I swear to god

I'm drinking the wine
As I'm upset but not to whine
I scrutinize those faces
Those maddening, happy faces

Before my eyes caught something so appealing

Candle? Why there's a candle in a party?
A candle that so obvious among this huddle
Lightened by the moonlight
Through a lonely skylight
That candle, this wine...

Ignition! So pleasing so pleasing!

I poured the wine into the fire

That miraculous revelation
Burnt them like bacon
Bodies were dancing and jumping in combustion
As lights beaming, music beating
O so pleasing so pleasing!

I'm crawling back toward my peaceful darkness
Feeling so lazy and moving so slowly
There's a voice calling me vigorously
As I see 'myself' sitting in the dark, sleepy and lazily
"Come on join man!"
There's a party!

Orgil II

0 komentar

Aku lupa ingat
Aku luap tangis
Aku pula sinting
Aku siul nista
Aku sunat ilusi
Aku sita usil
Aku tali Susi

Hehehee...

Tengkuk

0 komentar

Elok mu menyeruak berarak
Sentak kuat ku teriak serak
Sorak beriak hati tertolak
Terbahak rindu sepihak

Freedom?

0 komentar

You got my soul
Grasped by those eyes of yours

Hold it like the sky holds the cloud
Squeeze it like the cloud squirts the rain
It ain’t water but rain of blood
Each drop hits the land in pain

I envy the birds that soar
Chirp me their mocking roars
If I have wings
Why am I always walking?

Forgive me for I have sinned
Please mercy my wrong doing
I could hardly ever grin
If it’s my wings that you’re holding

O’ Lord, I have no choice
But to slay those very eyes of hers

Don't You Know?

0 komentar

1

I seek for red
On my blood that often shed
I seek for yellow
In a twilight that seems so slow
I seek for green
In a very vast, barren field
I seek for blue
In my vain that has no clue
I seek for purple
As I feel alone in a huddle

2
O’ dear, O’ my treasure
Don’t you know
That I still waiting on the corner
Of the rainbow?

Orgil

0 komentar

Engkau ilmuwan dalam berkhayal
Engkaulah sang durjana pun sang gembira
Tawa mu menyeruak ramai angkasa
Nyanyian mu pusat mata-mata, telinga
Namun duka seringkali tusuk mereka
Tiap jiwa yang denganmu bersua

Ikhlasmu yang tiada dua
Hanyut bagai kayu terlupa tanah
Beban hidup dulu membatu
Menguap bagai air terlupa awan
Namun hina seringkali hujam mereka
Tiap jiwa yang denganmu bersua

Namun Engkaulah sang Raja
Tuk kami bocah-bocah belia, oh Raja
Tiada berharap jadi seperti Engkau, Raja
Hanya sorak sorai lantuni hadirmu mu, oh Raja
Pun petualanganmu nan liar itu, sekali lagi, Raja
“ooo~rang~gi~laaaa~!”

Tuhan itu Tak Ada

0 komentar

Tuhan itu tak ada
Kala ku pandang indah matanya

Seraya berkaca dalam satu peristiwa:

Di matamu ku tatap potret sendu diriku
Karam tersiram hujan
Sungguh malang...
Ini pertukaran pandang kan di dalam ruang
Tuhan sial tak sanggup teduhi hujan
Dalam kedua cermin nan berlian

Dan untuk ku sebuah lamunan:

Tuhan itu tak ada
Kala ku pandang indah matanya

Aku dipandang bagai bubuk rangginang, namun tetap kau indah, sumpah!

Cuma Ingin

0 komentar

Aku ingin kau ingin mati
Aku mau kau mau tau
Jerit manusia dibalik lekuk dua helai bibirmu
Demi Tuhan, aku ingin kau ingin mati
Dan bukan salahku bila itu terjadi

dari rasa kesal dan kekecewaan

Death

2 komentar

I am an obscure silence
With a timeless presence
I am beyond your science

I’ve been living for thousand years
I’ve seen million of faces with diverse colors
Eliminated them like a soundless
Calamity in the midst of darkness

Suffering is your nature, sorrow is your feature
Blood and agony squeeze on our encounter
But you won’t feel the depth of your anger
While to be tortured, with my joyful glower

I am a seraph without wings
I am the damned thing
I am the song that you can’t sing

Ditulis saat membuat cerpen The Diary of Death yang sampe sekarang belum jadi

Aku Kau

0 komentar

Aku kau, hela hembus udara,
Kosong kita buat gaduh,
gaduh bersama, gaduh mengudara
Kita sama

Aku kau tersentuh hangat kasih ibu
Mengarifi arti di balik tiap pori
Jari-jari dan tangan surgawi
Kita sama lagi

Aku kau pandang bumi langit yang sama
Biarkan menggurui aku kau, kita
Ada hasil walau kecil me-nihil
Kita sama, lagi dan lagi

Aku kau bersama menyimak makna
Di semu udara, Di hijau tanah, Di biru langit,
Bahkan di balik badan-badan yang berhimpit rumit
Kita sama kembali

Aku, kau, kita.
Bersama, sama, tapi tetap saja iri
Iri pada perbedaan, yang tak pernah kesepian.

Kita sama?

Empat Baris Tentang Pagi dan Kamu

0 komentar

Langit pagi saksi hangat senyumu, matahari pun malu
Langit pagi saksi kaku aku seperti lugu, kini, aku malu
Langit pagi pun saksi selembar kenangan sisip satu bait memori
Langit pagi entah datang kembali rangkai buku perjalanan bersampul hati

Masih tentang kamu, headline penghias topik hati hari ini
Tentang kamu, penanam bibit kenangan, entah tumbuh atau hanya membatu
Percayalah, ingin hati slalu menyiangi dalam butir hujan serta lekuk pelangi
Kukuh benderang peluk bulan dan mentari

Puisi Kukila

0 komentar

Biar ku ceritakan pada kalian tentang sebuah kisah cinta
Kisah cinta yg sangat biasa, tentang dua orang yg biasa saja
Dalam pertemuan biasa ,dengan cara yg  biasa , dan di kehidupannya yang teramat biasa. . .
Bukan tak sudi ku buat nya jadi istimewa, hanya saja aku muak pada fiksi dengan begitu cantiknya setiap putri diceritakan dalam sebuah stanza, atau penggambaran para dewa yg membuat dunia seolah tampak seperti bola kecil yang dilempar tuan pada anjingnya.
kalian berdecak kagum, ada sebagian yg merana dan lainnya larut seperti cairan basa yg disirami api, hilang begitu saja, tak terasa panasnya, tak berguna
“camkan sayang, tiada hal yang lebih baik dalam kehidupan manapun selain cinta, bahkan mungkin ketika kau mati, dalam bayangku, surga adalah tempat dimana cinta tak pernah pudar, setiap jiwa yg ada disana dibekali dengan organ tubuh bernama cinta, seperti jantung pada hidup.
Tak ada rasa lainnya, kita tak perlu menerka nerka apa yg orang lain pikirkan tentang kita, karena itu penyakit yg paling berbahaya, bukan kah begitu ?
Dalam hidup kau terlahir, jika dilahirkan oleh orang kaya raya, bonusnya ya rasa hormat dan manut mereka, beranjak dewasa kau bisa pakai uang bapa mu, hidupmu disini bisa lebih mudah, tapi itu nerakanya, kau akan teramat sangat peduli pandangan mereka terhadapmu, kau akan dibebani tentang pendidikanmu, baju yg kau pakai, pekerjaan, teman bahkan cintamu
Jika ibumu orang melarat, hidupmu akan sangat bebas, kau bisa mulai dari manapun, kau bisa sekolah jika itu maumu, mencintai siapapun, apapun tapi hanya dalam anganmu, karena bila tak jadi orang jahat mungkin butuh waktu buatmu untuk menggenggamnya ditambah bonus pandangan mereka yg memperlakukanmu seperti sampah atau bahkan lebih buruk”
Sepenggal cucuran hasil riuh debatnya dengan dunia
Kami bertemu saat itu, siang itu
Matahari teramat sangat panas samapai melunglaikanku roboh terduduk, mengeringkanku sampai ke titik inspirasi, ah hidup terasa hambar, air tak menghilangkan dahaga, gula tak berasa, benar benar kosong yg berbentuk.
Dia, berjalan menuruni tangga tepat didepanku, ada nada kecil yg dihembuskan angin saat langkahnya terhenti, seperti mencoba membisikan kesejukan, tapi apa ? mengapa ?
Tak pernah bisa kuhapus ingatan itu, walau sepertinya kubenturkan kepalaku, atau kupenggal leherku, ingatan nya ter ektrasi jadi sebuah pil, yang sangat manis terasa dan bila ku emut makin menjadi rasa manisnya, tak pernah habis, tak pernah membosankan
Tatapan yg berkata sapaan, lekuk wajah se menarik permen loli yg dilihat anak kecil kala diajak ibunya ke pasar, simpul bibir sesegar mandi di danau jernih setelah lama berjibaku dengan hutan dan baju basah dengan keringat.
Semua teramat jelas, pandanganku yg kian kabur jadi berwarna, senikmat mengisap sabu berkualitas yg kau temukan dipinggir jalan.
Gerak kian pasti, tubuh bagai botol air dingin yang tersimpan rapat dalam etalase lemari es berkaca, dengan tetesan tetesan air disekelilingnya, penuh, menyegarkan.
“Aku KUKILA
Burung yg bertengger diatas pohon tertinggi” tukasnya

Aku terdiam menahan denyut dan gagap, ingin rasanya meledak.

ditulis oleh Fajar Taufiq Nugraha

3 Baris 3 Bait Tentang Lidah

0 komentar

Ku kecap manis sekarang
Ku kecap asam kemudian
Ku kecap pahit kemudian

Kau buat lupa manis sekarang
Kau buat parah pahit kemudian
Kau buat kekal pahit kemudian

Hingga lidah ini tak lagi kenal
Hingga lidah ini tak lagi ingat
Rasa manis yang dulu kau bawa

Hidup, Teka-teki, Labirin, itu Jalang

0 komentar

Katanya, hidup ibarat teka-teki
Katanya, hidup itu pilihan
Nyatanya, Teka-teki itu hidup
Nyatanya, pilihan itu teka-teki

Ku pikir hidup itu labirin
Ya, hidup itu labirin
Dengan berjuta koridor teka-teki
Berjuluk "Pilihan"

Aku pilih sekarang
Aku tersesat hilang
Hidup memang jalang
Kala kepalang timpang

Batu Bisu

0 komentar

Aku membatu bisu
Tak hirau angin berseteru
Tak peduli hewan berseru riuh
Aku hanya mau begitu
Bisu membatu, aku